Seiring perkembangan zaman, jenis-jenis bisnis juga berkembang jadi lebih banyak. Sekarang, kita tidak bisa menyebut bisnis hanya mereka yang B2B atau B2C, Franchise atau bisnis tunggal maupun Offline atau Online.

Kita perlu juga mengenal apa yang namanya Solopreneur, atau bisnis yang benar-benar pribadi. Singkatnya, mereka yang menjalankan bisnis jenis ini adalah mereka yang akan menanggung ‘semuanya’ sendiri. Apakah Anda penasaran? Mari kita kulik semuanya di artikel ini.

Apa Itu Solopreneur?

Nah Anda pasti bertanya apa mungkin seorang menjalankan seluruh bisnisnya dengan sebatang kara? Mungkin penulis dulu kebingungan menjawabnya. 

Namun sekarang, tidak. Karena ternyata jawabannya mungkin-mungkin saja.

Saat ini, muncul salah satu jenis pebisnis baru bernama Solopreneur. Mudahnya, mereka adalah orang yang cukup introvert dalam mengelola bisnis. Karena mereka lebih nyaman ‘sendiri’.

Seorang solopreneur adalah bos sekaligus karyawannya. Mereka bertanggung jawab penuh untuk segala segi pengembangan, finansial, operasional dan risiko yang perusahaanya kelola.

Jadi apa bedanya? Nah meskipun sama-sama jenis bisnis, solopreneur dengan entrepreneur memiliki perbedaan.

Solopreneur Entrepreneur
Melakukan semua tugasnya sendiri. Mendelegasikan tugas mereka pada tim yang dipunya
Mendelegasikan tugas mereka pada tim yang dipunya. Memikirkan banyak hal termasuk ekspansi dan kerjasama bisnis dengan banyak pihak
Tidak perlu effort untuk logistik dan operasional. Perlu budget yang lumayan untuk urusan logistik dan operasional.
Lebih mudah menghandle fraud yang ada. Memerlukan treatment khusus pada penanganan finansialnya.

Nah, kurang lebih itulah perbedaan antara Solopreneur dan Entrepreneur. Perbedaannya ternyata tidak hanya di level operasional sehari-hari, namun menyeluruh hingga cara pandang dan problem bisnis dari usaha yang mereka kelola.

Kendati begitu, terkadang solopreneur tidak bekerja benar-benar sendiri. Mereka bisa juga mempekerjakan pekerja lepas seperti freelancer atau agensi untuk membantu beberapa pekerjaanya. Beberapa sektor yang biasanya Solopreneur serahkan pada pihak ke 3 adalah pengelolaan sosial media, pembuatan website dan aplikasi, pemasaran digital serta konsultasi pengembangan bisnis.

Pros dan Cons Menjadi Solopreneur?

Lalu apa untungnya jadi orang yang menangani bisnisnya sendiri? 

Pros (Keuntungan)

  1. Solopreneur tidak butuh banyak budget untuk operasional. Jadi dana yang dimiliki bisa dialokasikan untuk hal lain. Jika Anda ingin menjalankan bisnis tanpa ribet mengurus finansial yang bengkak, Solopreneur bisa jadi alternatif yang layak dicoba.
  1. Solopreneur adalah bos untuk diri sendiri. Jika Anda ingin bekerja sebagai bos, silahkan jadi Solopreneur.
  2. Walaupun baru menjalani bisnisnya, skill management Solopreneur pasti di atas rata-rata pebisnis pemula. Ini karena habit mereka terbiasa sendiri dalam mengelola seluruh bisnisnya. Solopreneur tidak bisa bertahan jika mereka tidak pandai mengatur detail-detail seperti waktu, perencanaan, konflik, dll.
  1. Karena bekerja sendiri, Solopreneur menerima keuntungannya secara penuh. Mereka tidak harus membaginya ke siapapun karena mereka mengelola bisnisnya sendiri.

Cons (Kerugian)

  1. Solopreneur harus jadi tembok yang kuat untuk dirinya sendiri. Kenapa begitu? karena mereka bekerja sendiri. Jadi segala tanggung jawab, resiko dan tuntutan ada dalam pundak yang mereka bawa.             
  2. Solopreneur tidak punya lawan bicara yang senasib dan sepenanggungan. Berbeda dengan bisnis lain yang memiliki tim, Solopreneur menghadapi segala situasi sulit sendiri. Itu artinya, dia tidak punya lawan bicara untuk memperbincangkan bisnisnya. Padahal terkadang, ide atau terobosan bisnis yang sukses justru ditemukan oleh para karyawan. Tapi inilah resiko yang harus Solopreneur hadapi.
  1. Secara psikologi, menjadi Solopreneur cukup berbahaya. Karena kemungkinan, mereka akan menghabiskan 1/3 waktunya untuk bekerja dalam kesendirian. Dalam waktu itu, mereka bisa terjebak menjadi seorang yang denial addict. Karena mereka tidak punya orang lain untuk mengoreksi hasil kerja dan keputusan-keputusan mereka. Memang, siapa lagi yang mau disalahkan ketika Solopreneur mengambil keputusan yang kurang tepat?
  1. Solopreneur dituntut untuk selalu update. Baik itu teknologi atau tren yang berlaku, seorang Solopreneur harus tanggap dalam 2 hal tersebut. Karena jika mereka malas, mereka akan tertinggal dari bisnis lainnya. Saat mereka tertinggal, semakin berat effort yang harus mereka keluarkan untuk mengejar ketertinggalan.

Mengapa Solopreneur Sangat Butuh Seorang Coach?

Nah sekarang Anda sudah tahu bagaimana keuntungan dan kerugian saat menjadi seorang Solopreneur. Namun, bukan berarti profesi Solopreneur harus dihindari. 

Jika Anda memang cocok dengan metode Solopreneur ini, Anda masih bisa melakukannya. Namun dengan bantuan seorang Coach. Kenapa begitu? Ada benefit yang bisa para Solopreneur dapatkan jika memutuskan untuk menggunakan bantuan pihak ke 3 dalam membantu kerja-kerja bisnisnya.

  • Coach bisnis akan membantu mengembalikan Solopreneur ke alur bisnis yang seharusnya.
  • Coach bisnis dapat membantu menghadirkan perspektif yang lebih jelas dan luas dari luar serta memberi dukungan emosional pada para Solopreneur.
  • Coach bisnis mampu memberi petuah dari pengalaman mereka yang telah mencicipi asam-garam dunia bisnis lebih dulu.
  • Coach bisnis mampu memberi Solopreneur saran terkait strategi dan rencana yang lebih terukur dan terjadwal. Ini akan memudahkan Solopreneur menjalani waktu-waktu kedepan.

Kehadiran seorang Bisnis Coach mungkin adalah jawaban dari semua kekurangan di profesi Solopreneur. Jadi perhatikan saran ini jika Anda ingin terjun ke bisnis tersebut.

Contoh Solopreneur yang Bisa Dibantu seorang Coach

Lalu apa saja profesi Solopreneur yang bisa dibantu oleh seorang Coach? Menurut penulis, ada banyak profesi di Solopreneur yang membutuhkan peran dan arahan dari seorang Bisnis Coach. Beberapa diantaranya ialah :

  1. Seniman dengan klien internasional
  2. Fotografer Wedding
  3. Seller Online
  4. Youtuber
  5. Dropshipper / Affiliate marketer
  6. Insinyur
  7. Pengrajin

Tips Memilih Coach yang Cocok Untuk Solopreneur

Sekarang, kita telah mendapatkan banyak pelajaran tentang Solopreneur. Anda jadi lebih paham bahwa Bisnis Coach dapat memudahkan perjalanan bisnis seorang Solopreneur. 

Namun, perlu diketahui bahwa mendapatkan seorang Bisnis Coach juga perlu proses yang panjang. Seorang klien harus menyesuaikan keadaan dan kebutuhannya agar bisa menemukan Coach yang cocok.

Jadi, sebenarnya bagaimana sih tips memilih Bisnis Coach yang cocok untuk Solopreneur?

  1. Pahami situasi Anda dengan jelas. Anda harus menerima jika ada satu atau dua keadaan dalam bisnis yang sedang tidak baik-baik saja.
  2. Setelah Anda memahami situasi dan kebutuhannya, mulai petakan Bisnis Coach mana saja yang menarik. Kemudian lakukan pengecekan dari sertifikasi, pengalaman dan testimoni klien mereka.
  3. Jika sudah yakin pada 1 / 2 nama, mulai lakukan pengecekan lebih mendalam seperti gaya komunikasi, biaya penggunaan jasa hingga durasi yang biasa mereka punyai. 
  4. Ketika 3 poin diatas sudah dilakukan, mulai obrolan dengan tim dari Bisnis Coach tersebut untuk membicarakan Masalah, Tujuan dan Harapan yang diinginkan dalam konsultasi kali ini.
  5. Jika semuanya cocok, segeralah jalin kesepakatan kerja dengan Bisnis Coach.  

Kesimpulan

Dari artikel di atas, menjelaskan bahwa Solopreneur tetap memiliki keuntungan dan kerugian. Namun kekurangannya bisa dihandle dengan bantuan seorang Bisnis Coach.

Dengan bantuan Bisnis Coach, seorang Solopreneur dapat bantuan teknis, strategi dan emosional. Jika Anda memutuskan untuk jadi seorang Solopreneur, alangkah baiknya mempertimbangkan penggunaan jasa konsultasi dari Bisnis Coach ini.

Saya Tom MC Ifle, Salam Pencerahan.