Dalam berbisnis atau menjalankan usaha selalu saja ada kendalanya, entah itu masalah besar atau sepele. Banyak pengusaha yang bertahan dan tak sedikit pula yang berhenti dan beralih ke bisnis lainnya. Dan mereka yang mencoba bertahan dan mencari solusi akan meraih kesuksesan.

Dari berbagai masalah yang di alami para pelaku bisnis, terselip salah satu yang sering kita dengar dari konsumen yang mempermasalahkan harga dan selalu mengatakan kemahalan. Ini terjadi karena pada dasarnya belum memiliki bayangan tentang manfaat dan kegunaan dari produk atau jasa yang ditawarkan.

Dan juga yang perlu di pahami bahwa disisi lain setiap orang selalu mempunyai masalah dengan harga karena budget yang berbeda-beda. Lalu bagaimana cara merespons customer-customer atau prospek-prospek yang mengatakan hargamu mahal?

Sebelum melangkah lebih lanjut, ada tiga dimensi yang harus diketahui jika berbicara tentang harga yaitu yang pertama dimensi vibrasi, yang kedua dimensi produk, yang ketiga dimensi konsumen. Dan selanjutnya akan lebih berfokus membahas mengenai dimensi vibrasi.

Dikutip dari djkn.kemenkeu.go.id bahwa yang disebut vibrasi itu setiap manusia memancarkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari pikiran dan perasaan serta manusia lain dan alam menangkap dan akan merespon gelombang tersebut.

Nah, untuk menangani konsumen yang selalu mengatakan harga mahal, beberapa tips yang perlu diketahui sebelum merespon, yaitu :

1. Jangan Merespon Negatif

Memang tak bisa serta merta kita menjadi berpikiran positif setiap saat, bisa jadi ada yang merasa sedih, down bahkan merasa kurang percaya diri dalam menghadapi situasi seperti itu. Akan tetapi, untuk dapat bertahan seketika cukup untuk tidak merespons negatif, jangan bela diri, jangan panik, atau merasa tertantang.

Tetapi Anda dapat menganalisa dengan mengecek atau memastikan feeling Anda terhadap produk yang ditawarkan ke customer. Karena balik lagi dari pengertian daripada vibrasi itu sendiri bahwa secara tidak langsung mood Anda dapat mempengaruhi orang lain yang disebut dengan transference.

transference adalah penularan emosi atau pengalihan sebagian perasaan atau keinginan Anda kepada orang lain atau ke konsumen . Misalnya ketika saya tidak percaya diri dalam menawarkan produk maka bisa jadi konsumen tidak percaya diri juga untuk membeli produk yang di tawarkan.

Atau ketika saya tidak melihat value dari produk yang saya jual maka pada akhirnya customer juga bisa melihat value yang negatif dari produk tersebut. Nah, ini bisa terjadi sebagai transference atau sebagai fibrasi negatif kepada konsumen yang saya tularkan.

Maka dari itu, sebelum bertemu prospek saya biasanya afirmasi dulu dengan mengatakan pada diri sendiri “Iam a great coach, Iam a great coach, Iam a great coach, Iam the greatest coach in the world I can close customer any time”.

Atau bisa juga mengatakan afirmasi: “saya hebat, saya luar biasa, saya dasyat, saya mantap saya keren saya dasyat”. Intinya tidak mengizinkan hal-hal negatif menguasai diri kita ketika bertemu prospek.

2. Bertemu Yang Non Prospek

Dalam dunia usaha, prospek adalah hal-hal yang berpotensi akan memberikan sebuah keuntungan yang besar bari para pengusaha tersebut. Dengan melakukan hal-hal yang mendukung loyalitas konsumen ideal seperti fokus pada layanan, kualitas dan komunikasi untuk mendapatkan kepercayaan prospek sesuai yang di inginkan.

Lalu apa itu no prospek? Non prospek merupakan bukan jangkauan dari produk atau bisnis Anda. Dan ketika bertemu dengan prospek-prospek ini yang mengatakan mahal. Berarti belum siap untuk membeli dan tidak sesuai dengan kebutuhannya.

3. Tidak Bisa Melihat Value Dari Produk

Semua orang tahu bahwa nilai merupakan suatu alat yang dapat mengukur dan membandingkan satu hal dengan hal lain yang sama. Dan ini juga berlaku untuk semua produk yang di jual. Bahwa nilai yang dilihat bukan hanya sebatas harga, ukuran dan perhitungan logika lainnya.

Namun value yang terkandung dalam produk tersebut sangat berpengaruh terhadap nilai jual di pasaran. Jadi ketika prospek menyadari akan hal ini maka akan merasa sangat bangga dan akan langsung membeli. Intinya, bahwa hanya orang-orang yang tidak mengerti pentingnya value sebuah produk yang mengatakan mahal.

4. Produk Yang Memiliki Resiko Rebih Besar Dari Pada Tidak Memilikinya

Dalam hal ini resiko dapat di artikan sebagai adanya konsekuensi yang merugikan dengan memiliki suatu produk daripada tidak memiliki atau membelinya. Tentu ini sangat wajar jika prospek komplain. Karena banyak orang yang takut membeli dengan alasan takut maintainent.

Sebagai contohnya bahwa ada orang yang tidak mau membeli salah satu motor yangmeskipun bagus akan tapi boros ketika di pakai. Dan sama halnya juga dengan mobil tertentu kelihatan bagus dan oke akan tetapi mahal di perawatannya.

Atau bahkan ada orang menyukai anjing yang besar dan agresif ketika ingin membeli seketika itu juga menyadari bahwa dirumah ada anak-anak dan khawati digigit oleh binatang tersebut. Pada akhirnya prospek gagal membeli prodak Anda karena menyadariadanya resiko memiliki produk ini lebih besar daripada tidak membeli produk tersebut walaupun suka.

5. Tidak Mengerti Cara Pakai

Misalnya saja ketika Anda niatnya mau membeli oven atau mesin cuci lalu batal hanya karena tidak mengerti cara memakai barang tersebut.

Atau bisa saja niatnya membeli smart tv maka akan terhambat jika selalu berpikir teknologi bahwa teknologi akan berkembang terus dan bisa jadi apa yang saya beli hari ini dalam dua tahun ke depan sudah ketinggalan zaman.

Dan akan terus menunggu dan menemukan tv yang paling canggih baru bisa menggunakan smart tv karena saya pakai smart tv untuk belajar

6. Tidak Punya Ikatan Emosi

Kebanyakan bisnis lebih berfokus kepada pengalamn customer dan mengamati perilaku konsumen melalui kebiasaan mereka berbelanja, dan lain sebagainya. Umumnya untuk mendapatkan informasi mengenai customer, mereka mengamati perilaku hingga loyalty customer untuk mendapatkan kepuasan pelanggan disetiap interaksi yang mereka lakukan.Kepuasan pelanggan juga memang hal yang penting.

Akan tetapi dalam berbisnis perlu melakukan hal yang berbeda yaitu dengan memberikan nilai tambah, yakni menjalin ikatan dengan customer secara emosional. Misalnya dengan produk yang memang sudah disukai sejak lama atau dengfan memiliki nostalgia dengan produk tertentu. Dan ketika tidak memiliki ikatan emosi, mereka akan cenderung bilang harga mu mahal oke

7. Punya Pengalaman Negatif

Disetiap bisnis tentu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing walau sekcil apapun itu. Ada perusahaan yang menonjol pada customer servis yang baik yang mampu memecahkan masalah dengan cepat dengan memberikan solusi yang efektif ataupun dalam etika pelayanan yang baik.

Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bahwa kekurangan itu terbersit dalam penataan atau tata letak produk yang di jualnya. Serta mampu membuat pelanggan membeli tanpa mempertimbangkan harga.

Dan sebaliknya bahwa ada yang customer servicenya kurang berpengalaman dan kurang menyenangkan dalam menjelaskan manfaat dan keuntungan dari produk yang dijual sehingga customer cenderung mengatakan bahwa harganya kemahalan.

Balik lagi pada penjelasan sebelumnya bahwa kita tak perlu berkecil hati, panik atau apapun itu yang dapat mengubah semangatmu menjadi pudar. Karena setiap masalah punya solusi. Dengan Tidak perlu menjawab tetapi balik bertanya.

Memang benar bahwa kita tak dapat menghindari segala macam perspektif prospek tentang produk yang akan kita tawar. Akan tetapi dengan masalah yang sama kita bisa mengajukan pertanyaan yang mungkin bisa mengingatkan kembali tentang tujuannya mencari barang sesuai kebutuhannya.

Seperti menanyakan “apakah Bapak/Ibu mencari barang ini?”

“Dan apa yang Anda sukai dari barang ini?”

kalau memang bukan berarti bisa jadi bukan barang tersebut yang dicarinya. Nah, ini pentingnya cross check akan kebutuhan dari customer tersebut.

Namun ketika Anda bertanya tentang kesukaannya akan barang tersebut dan dengan penjelasannya. Anda akan dengan mudah mendapatkan ide dan menganalisa kembali tentang kualitas barang dan harganya.

Atau cara ini patut di pertanyakan pada customer tentang “Apakah barang ini yang memang di butuhkan?” pada dasarnya kita hanya asal mengatakan hargamu mahal karena tidak benar-benar butuh, hanya sekedar untuk melihat dan mencoba untuk menawarkan harga yang mereka inginkan.

Atau ketika orang membutuhkan sesegera mungkin maka ia akan beli dengan tujuan menyelamat hal lain dari sekedar barang yang di belinya walaupun secara terpaksa. Dan disisi lain Anda juga perlu memastikan apakah customer tersebut keberatan akan harganya atau biaya.

Dengan tujuan customer dapat membedakan antara harga dan biaya yang akan di tanggungnya setelah membeli barang tersebut. Misalnya saja seseorang membeli mobil dengan harga 500 juta sekali bayar dan biaya perawatannya seumur hidup. Jadi Anda perlu menanyakan kepada customer apakah keberatan dengan harganya atau dengan biayanya?

Atau misalnya istri saya beli tas harga 10 juta (ini tidak menghina harga 10 juta ya tolong jangan di salah mengerti) tapi tiba-tiba tas itu tidak di rawat dan mudah untuk lusuh lalu pergi ke pesta dan orang bilang wah coach Tom sedemikian hebatnya masa istrinya pake tas lusuh? Ada biaya yang lebih mahal dari sekedar harga 10 juta yaitu nama baik.

contoh tentang biaya suatu hari saya membeli mobil pilihannya CRV dan BMW X1 atau BMW seri tiga harganya mirip-mirip, tetapi BMW sedikit lebih mahal. Saya mencoba untuk membandingkan harga. kalau saya beli CRV harga 550 ya yang top range BMW yaitu sekitar 629 jadi beda 30-45 juta ya topnya beda 100 juta.

Dari pengalaman saya memakai CRV dalam 5 tahun pemakaian ganti ban itu bisa seluruh ban ya satu kali sampai satu setengah kali. Dengan harga satu jutaan per ban dan ganti spare part yang cukup tinggi waktu itu 25 jutaan serta untuk service mobil setiap bulan tidak kurang dari 1,5 juta.

Bedanya dengan BMW adalah spre partdan ban garansi, artinya apa? kalau tipis dan ada ukurannya bisa di ganti empat-empatnya karena tidak ada ban serep . Dan ini sudah menjadi jaminannya. Karena satu kali bayar.

bensin BMW juga jauh lebih irit bisa 1.1, 1.9, 1.10, 1.11CRV itu bisa 1.6, 1.7. Jadi kalau dipertimbangkan harga yang lebih murah pasti 550 dibandingkan dengan yang harga 600 juta. Namun jika di tanya biaya mana yang lebih murah? Tentu yang 600 juta. Demikian penjelasan tentang HARGA SUDAH MURAH MASIH DI BILANG MAHAL. Semoga bermanfaat.

Tom MC Ifle,

Salam pencerahan.

Share This, Choose Your Platform!