Tren bisnis memang selayaknya berubah. Saat manusia berkenalan dengan internet, spektrum bisnis jadi lebih luas. Hari ini, kita mengetahui bahwa media sosial dan e-commerce mendampak banyak usaha konvensional dan memaksa mereka untuk bertransisi di dalamnya. 

Internet juga mendampak behavioral konsumen secara langsung.  Karena itu pula, setiap pebisnis harus selalu melakukan update strategi jika ingin mengikuti tren dan gerak pasar. Salah satu bagian yang pantas jadi sorotan adalah strategi penetapan harga seperti Mark Up dan Mark Down, yang terkesan mudah namun sangat vital. 

Dalam artikel ini, kita akan mempelajari bersama apa itu strategi Mark Up Pricing, bagaimana proses eksekusinya, perbedaannya dengan Profit Margin hingga contoh pengaplikasian strateginya. Selamat membaca! 

Definisi Mark Up Pricing

Mark Up Pricing atau strategi menaikan harga produk dan layanan adalah salah satu upaya perusahan atau bisnis memperkaya diri. Biasanya, harga yang ditetapkan lebih tinggi dari kalkulasi seluruh biaya produksi. Pada praktiknya, konsep ini adalah penentu sebuah bisnis mampu bertahan dan bertumbuh melewati waktu.

Sebagai bisnis owner, kita pasti tahu bahwa ranah finansial sangat sensitive. Maka setiap keputusan yang diambil, harus dipikirkan dengan matang dan penuh kalkulasi. Karena bagaimanapun, perubahan harga akan tegak lurus dan mempengaruhi minat dari para pembeli yang bisnis kalian miliki. 

Rumus Mark Up Pricing

Dalam menjalankan strategi Mark Up Pricing, kita akan menggunakan rumus :

[Harga pokok barang/jasa awal + Presentasi kenaikan = Harga jual]

Jadi misal, harga awal barang/jasa adalah Rp 40.000, setelah di Mark Up 25% harga jual akhirnya menjadi Rp 50.000. Tapi bagaimana jika kalian ingin menaikkan harga ke Rp 80.000 ribu dan penasaran tentang berapa presentasi Mark Up yang dibutuhkan? Sangat mudah, rumusnya tinggal dibalik menjadi :

[Persentase markup = ( {harga jual – biaya satuan} / {biaya satuan} ) x 100]

? % = (Rp 80.000 – Rp 40.000) / Rp 40.000 x 100

? % = (Rp 40.000)/ Rp 40.000 x 100

? % = 1 x 100, maka ‘?’ (Presentasi Mark Up) adalah 100 %.

Strategi Mark Up Pricing ini bisa digunakan untuk harga ecer maupun satuan tertentu. Selain itu, proses ini akan sangat subjektif dalam proses pengaplikasiannya. 

Kalian bisa saja bertemu dengan bisnis yang berani ugal-ugalan karena industrinya sedang potensial. Namun di sisi yang berlainan, ada juga pebisnis yang sangat hati-hati dalam menentukan angka ini karena industrinya kelewat kompetitif. 

Poin pentingnya, aplikasi strategi ini sangat subjektif. Bergantung pada kebutuhan, kemampuan dan situasi industri yang ada.

Terus gimana dengan Mark Down Pricing? Nah Mark Down Pricing adalah kebalikan dari Mark Up Pricing. Strategi ini mengacu pada pengurangan harga jual produk/jasa dalam pasar yang disengaja. 

Pada praktiknya, kegiatan ini wajar dilakukan oleh para pebisnis. Beberapa alasan yang sering mereka gunakan adalah untuk menghabiskan stock barang, meningkatkan awareness pelanggan dan menghindari sebuah persaingan.

Tujuan Mark Up Pricing

Lalu, apa sebenarnya tujuan dari kenaikan harga ini?

  1. Sudah pasti, cari keuntungan.

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, strategi ini dapat membantu bisnis kalian untuk bertumbuh dalam waktu-waktu ke depan.

  1. Menyederhanakan pesan pemasaran. 

Ketika nilai yang kalian jual pada pelanggan bukan ‘sebuah harga’ yang murah, Kalian akan semakin menerima dampak baiknya. Karena mereka akan lebih mengingat bagaimana produk/jasa ini benar-benar berkualitas.

  1. Mengurangi keterikatan pelanggan pada harga promo.

Mungkin, selama ini para pelanggan kalian selalu repeat order karena biaya potongan. Dengan strategi Mark Up Pricing, pandangan mereka akan berubah. Mereka akan menilai bahwa penawaran kalian selanjutnya memang berisi produk berkualitas yang mereka selama ini butuhkan.

  1. Membuat Brand makin adaptif.

Sebagai brand, Mark Up Pricing adalah satu upaya untuk adaptif. Saat harga bahan – alat produksi mengalami kenaikan, maka harga jual juga harus disesuaikan. Selain itu, dengan semakin banyaknya pendapatan, maka semakin banyak hal yang bisa dilakukan.

Mark Up VS Profit Margin

Apakah kalian tahu bahwa dua hal ini memang dipenuhi kemiripan? Nah, meskipun markup dan margin keuntungan membantu menganalisis transaksi yang sama, keduanya memberikan informasi yang berbeda. 

Margin keuntungan, dinyatakan sebagai persentase pendapatan yang mengacu pada [pendapatan – harga pokok penjualan]. Sedang, Mark Up mengacu pada kenaikan biaya suatu produk atau layanan untuk mencapai harga jual puncaknya. 

Margin keuntungan menunjukkan keuntungan perusahaan terkait harga jual atau pendapatan, sebaliknya, Mark Up akan memberi gambaran tentang keuntungan terkait harga pokok produk kalian. 

Kesimpulannya, Mark Up seringkali menilai keuntungan dari suatu barang dikaitkan dengan biaya langsung, sementara margin menitik tumpukan sebuah keuntungan lewat perhitungan seluruh pendapatan dan biaya dari beberapa sumber dan produk.

Cara Menentukan Proses Mark Up Pricing yang Tersistem.

Sampai sejauh ini, apakah kalian masih kebingungan untuk menjalankan strategi Mark Up Pricing pada bisnis yang sedang dikelola? Tenang, mari kita bahas proses melakukan strategi itu dengan tersistem.

  1. Lakukan analisis mendalam pada bagaimana pasar merespon perubahan harga. 
  2. Kemudian, hubungkan hasilnya pada rancangan awal yang sudah kalian bayangkan. Pada tahapan ini, selain menentukan angka kenaikan harga, kalian juga akan mulai menghitung. Jadi pastikan semuanya dikerjakan dengan teliti.
  3. Ketiga, setelah menemukan angkanya, tolong perhatikan faktor lain seperti sentimen persaingan, permintaan pelanggan dan nilai tambah produk. Hal-hal tersebut akan jadi faktor penentu di keberhasilan strategi ini.
  4. Tahap selanjutnya, uji coba harga dan lakukan monitoring. Di tahap ini, kalian harus super responsif pada keadaan pasar. Jika ternyata strategi kalian ditolak, segera ambil sikap dengan penyesuaian baru. Sebelum dampak negatifnya semakin besar.
  5. Terakhir, gunakan teknologi untuk melakukan strategi ini dari awal hingga akhir. Penggunaan teknologi tidak lain untuk menyedehanakan setiap proses pelaksanaannya.

Contoh Aplikasi Mark Up Pricing.

Terus gimana contoh dari pengaplikasian strategi ini? Oke mari kita bayangkan jika terjadi sebuah kompetisi antara Coca-Cola dan Pepsi di tahun ini. Coca-cola ingin mendatkan keuntungan lebih banyak untuk melebarkan ekspansinya pada pembuatan perusahaan manufaktur di Asean.

Bagaimana caranya? Sebenarnya banyak, namun salah satunya dengan cara Mark Up salah satu produknya. Bayangkan jika mereka mampu menaikkan harga produknya 10% saja, dari yang Rp 5.000 jadi Rp 5.500. Keuntungan Rp 500 rupiah itu dikalikan seluruh jumlah produk yang terjual. Hayo, bayangin keuntungannya?

Kesimpulan

Daru artikel di atas, ktia jadi memahami bahwa strategi Mark Up Pricing mampu membantu sebuah bisnis bertumbuh. Selain itu, keuntungan yang dihasilkan juga dapat menutup seluruh biaya produksi. 

Dengan strategi Mark Up ini, keuntungan bisnis juga bisa jadi berlipat. Namun, perlu diperhatikan bahwa prosesnya tidak bisa mengandalkan kemauan semata. Harus penuh kalkulasi dan memperhatikan perspektif pelanggan.

 

Saya Tom MC Ifle, Salam Pencerahan.