Dari masa ke masa, ibu selalu punya peran dan tanggung jawab yang tak kalah dari seorang ayah. Hari ini, seorang ibu tidak hanya berkutat dalam pekerjaan domestik saja. Mereka bahkan jadi kekuatan penting yang memberi sumbangsih pada keluarga hingga negara. Kok bisa?

Memang benar, itu terjadi berkat fenomena Mompreneur. Mompreneur adalah kegiatan yang mendorong passion dari para ibu-ibu. Dorongan ini terwujud melalui kegiatan berniaga di sela-sela kesibukannya mengurus keluarga.

Itu artinya, saat ini peran ibu meluas dan mampu sejajar dengan ayah sebagai pencari nafkah. Hal yang patut sekali dihargai dan diapresiasi, karena dedikasi mereka yang tinggi bukan hanya sekedar teori.

Namun, menjadi Mompreneur tidak semudah itu. Banyak sekali halang rintang yang akan mereka hadapi. Di artikel ini kita akan membahasnya satu persatu mulai dari sejarah, tantangan, keuntungan-kerugian hingga tips dalam melaksanakannya.

Sejarah Mompreneur

Apakah Anda tahu dari mana semua ini bermula? Gagasan Mompreneur ini sebenarnya telah ada sejak lama, tepatnya di tahun 90-an.

Di tahun tersebut, lahir sebuah buku ajaib berjudul “Mompreneurs: A Mother’s Practical Step-by-Step Guide to Work-at-Home Success”. Konon, buku inilah yang jadi cikal bakal fenomena ini tersebar di dunia.

Kenapa buku ini ajaib? Buku ini ajaib karena diciptakan Patricia Cobe dan Ellen H. Parlapiano di sela-sela mereka mengurus anak, keluarga dan sebuah usaha. Mereka menuturkan dalam bukunya bahwa, Mompreneur menggambarkan situasi dimana seorang ibu rumah tangga mampu bekerja dari rumah dengan sebuah usaha kecil yang mampu mereka tangani.

Ini adalah semangat yang baik dan tak pernah terfikir oleh generasi sebelumnya. Semenjak itulah apa yang mereka tuliskan tadi berubah jadi gagasan yang diterima banyak ibu di seluruh dunia.

Sumbangsih Mompreneur pada Negara

Menurut Anda sejauh mana dampak konkrit dari kegiatan berjualan yang dilakukan oleh para ibu-ibu ini? Jika menakarnya dengan sebelah mata, sepertinya Anda sangat keliru.

Dari banyak sumber yang beredar, Mompreneur ini malah dinilai menjadi salah satu jenis wirausaha yang berperan luar biasa. Bahkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengarsipkan bahwa ada lebih dari 37 juta UMKM yang terdaftar saat ini dikelola oleh para perempuan. 

Arsip ini menunjukkan temuan yang mengejutkan karena angkanya berhasil menyentuh 65% dari jumlah bisnis tercatat secara keseluruhan. Itu artinya, perekonomian Indonesia yang selama ini ditopang penuh oleh UMKM juga menggantungkan nyawa pada dedikasi bisnis para ibu-ibu rumah tangga.

Lantas apakah fenomena ini hanya terjadi di Indonesia? Tentu tidak. Dilansir dari smallbiztrends blog, saat ini Mompreneur juga berkembang di Amerika Serikat. Hal ini dibuktikan dari sebuah riset yang menyatakan bahwa satu dari tiga pemilik usaha di sana adalah seorang ibu-ibu. 

Tak cukup mengejutkan dari sisi jumlah saja, menurut penuturan yang sama dijelaskan bahwa ibu-ibu ini mampu dua kali lebih cepat saat membangun bisnis mereka dari 0. Itu artinya Mompreneur di Amerika Serikat mampu jadi katalis yang kuat untuk sesamanya dan mampu berubah jadi garda terdepan perekonomian yang kokoh dan sulit tergoyahkan.

Gerakan masif ini didominasi oleh ibu-ibu yang berusia 40 tahun lebih dengan kondisi keluarga telah beranak satu atau dua. Ini menegaskan bahwa ibu-ibu tersebut bukanlah kelompok yang menjalankan bisnis untuk mengisi waktu luang saja. Namun benar – benar menjalankan bisnis untuk mencari keuntungan. Hal ini kembali dipertegas oleh temuan bahwa 95% dari pelaku tersebut memiliki pasangan yang sanggup memberi penghasilan juga.

Itulah sumbangsih nyata dari sebuah profesi yang saat ini, masih dianggap main-main oleh beberapa. Jika selalu mendapatkan perhatian dan penanganan yang baik, keduanya akan terus membantu negara untuk memutarkan perekonomiannya.

Tantangan, Kerugian dan Keuntungan Menjadi Mompreneur

Lantas apakah menjadi Mompreneur memiliki tantangan?  Untuk menjawabnya coba bayangkan. Apakah istri atau ibu Anda pernah bersantai-santai sepanjang hari di rumah? Tidak, bukan? Mereka selalu punya hal yang bisa dikerjakan.

Nah sebagai Mompreneurship, tingkat pekerjaan yang jadi tanggung jawab mereka akan bertambah. Hali ini bagus, karena memaksa setiap pelakunya memiliki skill multi-tasking yang tinggi. Tapi, ini sungguh menguras energi dan menyita waktu. Untuk mempermudah memahami apa saja tantangan yang ada, kita akan sebutkan beberapa diantaranya:

  1. Tiap Mompreneur dihadapkan dengan permasalahan tentang manajemen waktu. Isu ini cukup jadi permasalahan serius yang dihadapi para ibu-ibu pelaku wirausaha.
  2. Tiap Mompreneur rawan tersita waktunya untuk urusan bisnis dan keluarga. Membiarkan keadaan ini terenggut dari hidup adalah awal dari berbagai macam permasalahan. Maka saat ini banyak ditemukan Mompreneur yang berupaya penuh untuk mewujudkan Work-Life Balance.
  3. Kelompok ini juga sangat berpotensi terganggu secara psikis. Perlu diketahui, menjadi ibu dalam sebuah keluarga cukuplah menguras waktu, tenaga dan emosi. Apalagi ini ditambah dengan tanggung jawab pada sebuah bisnis. 

Di beberapa fase, pebisnis pasti akan bertemu jatuh-bangunnya. Ketika ini disikapi oleh ibu-ibu dengan reaktif dan emosional, energi negatifnya akan berkumpul. Kumpulan emosi negatif inilah yang pada akhirnya mampu membawa mereka untuk berkonsultasi dengan para profesional di bidang psikolog.

Terlepas dari tantangan yang harus para ibu-ibu hadapi, profesi ini tetap memiliki sebuah keuntungan dan kerugian. Apa saja? Simak table di bawah ini!

Pros Cons
Lebih flexible dan mampu dijalankan dari rumah. Tenaga yang dibutuhkan lebih besar. Karena selain bertanggung jawab untuk urusan rumah, ibu-ibu ini harus bertanggung jawab untuk bisnis mereka.
Bisa berada di sekitar keluarganya. Walaupun hadir di sekitar keluarga, belum tentu para ibu ini mampu memberikan kehadiran terbaik untuk keluarganya.
Mampu lebih produktif daripada entrepreneur biasa. Berpotensi lebih stress dan tertekan karena mengerjakan hampir semuanya sendirian. Mereka juga tidak bisa mendelegasikan tugas karena belum tentu memiliki tim di bisnis yang dikelola.
Dapat mengoperasikan bisnis sambil mempelajari banyak hal. Jika mereka terjerembab dalam suatu masalah, mereka harus mengupayakan bangkitnya sendiri. Karena mereka tidak memiliki partner untuk bertukar pikiran.

Apa Perbedaan Mompreneur & Entrepreneur?

Lalu apa perbedaan antara Mompreneur dan Entrepreneur? Perbedaan mencolok dari keduanya ada pada bagian mentalitas. Entrepreneur mungkin akan berorientasi hanya pada sisi bisnis saja, sedang Mompreneur bertumbuh bersama mentalitas keluarga.

Bagaimana itu terjadi? Anda tahu bahwa sifat alami dari seorang ibu adalah tidak bisa meninggalkan perhatian untuk keluarganya. Bahkan di beberapa kesempatan, mereka menaruh keluarga lebih tinggi daripada kebutuhannya sendiri. Inilah yang jadi poin pembeda antara 2 profesi tersebut.

Tips Menjadi Mompreneur

Setelah membaca serangkaian penjelasan di atas, mungkin saat ini Anda tercerahkan dan ingin menggeluti profesi Mompreneur. Namun anda kebingungan harus mengawalinya dari mana. Jika seperti itu, saya akan memberikan Anda sejumlah tips:

  1. Jalani profesi Mompreneur ini dari hal-hal yang dekat. Jika Anda hobi masak, coba jual masakan itu pada kolega. Jika Anda menyukai fashion, coba ulik lebih dalam lagi dan ubah itu menjadi sebuah bisnis. Memulai dari hal yang dekat akan mengurangi tingkat pressure di awal karir Anda.
  2. Anda bisa melihat usaha ibu-ibu lain di luar sana untuk mendapatkan sebuah ide bisnis, tapi pastikan hindari sisi pembandingan. Terkadang, ibu-ibu ini kelewat melankolis. 

Dari yang awalnya hanya cari ide, eh malah akhirnya jadi membanding-bandingkan. Anda perlu ingat, membanding-bandingkan usaha Anda dengan orang lain tidak akan memberikan dampak apapun. 

Jadi cara mainnya adalah amati, temukan hal menarik dan bawalah itu alam bisnis Anda. Jika tidak ada yang menarik, tinggalkan. Anda masih dapat menganalisis bisnis lain yang banyak sekali jumlahnya.

  1. Memanfaatkan kehadiran teknologi. Teknologi akan memudahkan pengelolaan bisnis Anda. Mereka membantu mempersingkat waktu, mengurangi tenaga yang keluar seperti pada pencatatan manual dan menghindari kesalahan tidak penting seperti kelupaan pencatatan. Tentu ini sangat berguna, apalagi jika SDM di bisnis Anda terbatas.
  2. Terakhir, gunakan jasa profesional. Berbisnis butuh seorang teman sharing, apalagi jika teman sharingnya seorang yang lebih berpengalaman. Kehadiran mereka akan memberi Anda bantuan berupa arahan dan validasi emosional. Menyisihkan biaya untuk menggunakan jasa profesional seperti Business Coach akan membantu Anda mengelola bisnis di profesi Mompreneur ini.

Kesimpulan

Dari artikel di atas, kita jadi tahu bahwa Mompreneur adalah profesi bisnis yang mengedepankan aspek keluarga. Mereka tidak meninggalkan sisi bisnisnya, hanya saja menaruh aspek itu sejajar dengan keharusan merawat anggota keluarganya.

Kendati begitu, Mompreneur tetaplah profesi yang memberi sumbangsih nyata untuk negara. Bahkan untuk negara yang memiliki UMKM berpuluh juta seperti Indonesia dan Amerika.

Namun, profesi ini memiliki tantangan dan sejumlah kerugian. Untuk mengatasi itu, seorang Mompreneur bisa meng-hire seorang Business Coach untuk membantunya menghadapi tiap masalah yang ada.

Dengan bantuan Bisnis Coach, seorang Solopreneur dapat bantuan teknis, strategi dan emosional. Jika Anda tertarik menggunakan Business Coach, Anda bisa hubungi saya.

Saya Tom MC Ifle, Salam Pencerahan.