Percakapan adalah warisan terbesar dari peradaban manusia. Dahulu, nenek moyang kita berinteraksi dengan non verbal. Namun kemudian, cara itu ikut berevolusi hingga melahirkan percakapan verbal yang kita kenal saat ini. 

Kegiatan ini memang hal yang menarik untuk kita. Sudah banyak riset ilmiah yang membahas tentang fenomena bercakap, hingga ditemukan fakta bahwa kita mengutarakan 16.000 kata setiap harinya. Dari situ bisa dikatakan bahwa kita sangat menyukai sebuah percakapan.

Namun apakah Anda tahu, bahwa hobi bercakap dapat digunakan untuk strategi pemasaran? Nah untuk yang belum tahu, teknik ini bernama Brand Storytelling Marketing.

Simpelnya, teknik itu menempatkan brand untuk memanfaatkan narasi pada interaksi yang mereka coba bangun dengan target audiens. Tujuan cara ini dilakukan ialah menciptakan kedekatan emosional dengan maksud mendorong konversi pembelian pelanggan.

Dalam artikel ini, kita akan membedah bagaimana merek melakukan teknik modal cakap tersebut sebagai teknik unggulan mereka.

Apa itu Brand Storytelling?

Brand Storytelling adalah keahlian khusus dari sebuah merek dagang yang mengkolaborasikan komponen persuasi, komunikasi dan emosional. Umumnya, teknik ini digunakan untuk menjelaskan asal usul, identitas, value, goal brand maupun penawaran produk pada calon pelanggan. 

Seni dari teknik ini ada pada bagaimana tiap merek mempunyai gaya pembawaaan mereka sendiri. Tapi, gaya pembawaan tersebut tidak bisa sembarangan dilakukan. Masing-masing merek tersebut harus melakukan percobaan tentang bagaimana gaya komunikasi yang disukai para audiensnya.

Nah biasanya, merek yang sukses menggunakan teknik ini punya 2 ciri-ciri. Pertama, cerita yang mereka sampaikan memang kuat hingga menyentuh sisi emosional. Kedua, cara mereka bercakap memang menarik.

Lalu, apa dampak dari penggunaan Brand Storytelling ini? Ternyata, 92% orang lebih menyukai iklan yang dibuat menggunakan format bercerita. Tak hanya itu, 84% kelompok lain juga menjelaskan bahwa alasan mereka membeli produk dari suatu brand karena mereka terkoneksi secara emosional. 

Jadi benar, jika teknik ini sangat bermanfaat untuk digunakkan sebagai senjata utama. Dengan menggunakan Brand Storytelling Marketing, merek bisa lebih terkoneksi dengan pelanggan mereka. Hubungan jenis ini akan mempermudah brand dalam melakukan kegiatan bisnisnya.

Komponen-Komponen Kunci Dari Brand Story Telling

Namun apakah praktik penggunaan strategi bercakap ini semudah kelihatannya? Tentu tidak. Sebagai merek, Anda harus memperhatikan beberapa komponen kunci untuk mengamankan kesuksesan teknik Brand Storytelling. Apa saja?

  1. Orisinalitas

Dalam sebuah strategi konten, orisinalitas punya peran yang sangat krusial. Semakin konten original, semakin konten itu berkualitas tinggi. Kualitas tinggi dari sebuah konten efektif untuk meningkatkan kesempatan trending di tiap platform.

  1. Emosionalitas

Kedua ada sisi emosional dalam setiap konten. Menurut Anda, kenapa konten harus emosional? Nah menurut bapak SEO dunia, konten memang harus emosional.

Neil Patel, menyoroti beragam studi kasus dan penelitian tentang hal ini. Inti dari penelusuran tersebut mengatakan bahwa ’emosi’ pada sebuah konten mampu menginspirasi audiens dan pelanggan untuk bertindak sesuai yang diharapkan pembuat kontennya.

  1. Kontinuitas & Relevansi

Dalam persaingan konten, apa yang mampu membuatmu konten Anda dipercaya audiens? Jawabannya adalah konsistensi. Ketika Anda konsisten, konten berpeluang besar untuk dikonsumsi audiens secara terus-menerus. 

Kondisi tersebut jadi awal dari semuanya. Ketika konten telah sampai pada target, barulah Anda buat konten yang relevan dengan mereka. Relevansi dan keteraturan konten-konten Anda memudahkan audiens untuk engage dan percaya pada merek yang sedang dibangun. 

  1. Sense Of Influence

Selanjutnya, konten Anda harus punya sense of influence. Apa itu? Sense of influence adalah peran konten untuk mengajak audience melakukan sesuatu.

Misal, merek Anda sedang menjalankan sebuah kampanye yang dimaksudkan untuk suatu produk baru. Ketika konten tidak memiliki komponen ini, maka para Audience akan sekedar menontonnya. Akhirnya, kampanye produk Anda gagal Jadi, perhatikan komponen ini jika ingin menjalankan strategi Brand Storytelling.

  1. Clarity

Terakhir, Anda harus punya clarity atau kejelasan. Tentang apa? tentang pesan dari konten yang Anda mau.

Selain konten ini masuk dalam ranah marketing, setiap konten Anda media komunikasi. Jika pesan yang hendak Anda sampaikan dalam konten gagal dimengerti, maka konten Anda sia-sia.  Itulah awal dari rentetan kegagalan pemasaran di era sosial media.

Lantas, Bagaimana Cara UMKM Menerapkan Strategi Brand Storytelling Ini?

Ada beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk menjalankan Brand Storytelling ini.

  1. Filter target audiens Anda.

Jika Anda menggunakan wewenang bisnis untuk menjangkau pasar yang luas tanpa perhitungan, merek Anda tidak akan mendapatkan hal yang sepadan. Dalam penerapan Brand Storytelling, Anda harus mampu memfilter calon audiens mana yang akan dituju. 

Filter ini akan membuat pesan di konten Anda lebih relevan, sehingga budget pembuatan konten yang sudah dikeluarkan akan efisien. Untuk menjalankan fitur tersebut, Anda bisa mempertimbangkan data gender, usia, pendidikan dan pendapatan.

  1. Tentukan di platform mana Anda akan bercerita.

Saat ini, konten banyak jenisnya. Mulai dari audio, visual dan audio visual. Untuk itulah, Anda bisa menyesuaikan cara distribusi yang paling sesuai. 

Misal, konten storytelling Anda berbentuk tulisan panjang, apa akan relevan dengan pengguna platform Tiktok yang attention span-nya rendah?  Tentu tidak. 

Konten tulisan panjang akan relevan jika dimuat dalam website bisnis dan Facebook. Konten pendek lebih mobile lagi, karena bisa dimuat di Instagram,  Tiktok, merchandise maupun packaging produk.

Sedang konten audio mampu didistribusikan di radio ataupun layanan streaming musik. Dan konten audio visual panjang mampu didistribusikan di dalam youtube berupa podcast. Jadi jangan pernah lupa menentukan model distribusi konten  Anda.

  1. Gunakan gaya bahasa yang relevan.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, untuk sukses menjalankan strategi modal bercakap dan cerita ini Anda butuh sebuah kepercayaan pelanggan. Kepercayaan tersebut bisa didapat saat audiens dan bisnis Anda saling terkoneksi.

Nah gimana cara membuat audiens relate dengan konten Anda? gunakan bahasa yang biasa mereka gunakan. Semakin bahasa yang Anda gunakan familiar, semakin besar kesempatan mereka memahami apa yang Anda sampaikan dalam konten.

  1. Jangan lupa selipkan Call To Action(CTA).

Terakhir, jangan lupakan peran CTA. Call To Action adalah kalimat ringkas yang mampu mempengaruhi audiens Anda. Jadi, selipkan CTA pada semua konten Brand Storytelling yang Anda buat.  

Kesimpulan

Dari artikel di atas, kita jadi memahami bahwa metode pemasaran Brand Storytelling mampu jadi strategi andalan yang mudah dilakukan. Bermodalkan kecakapan bercerita, pendekatan ini mampu membangun ikatan kuat dengan para pelanggan.

Namun untuk menjalankan strategi ini, Anda harus memperhatikan 5 komponen penting. Yaitu : orisinalitas, emosionalitas, kontinuitas & relevansi, sense of influence serta clarity. 

Dalam era persaingan yang makin ketat, Brand Storytelling kerap jadi strategi alternatif untuk menciptakan diferensiasi. Selain itu, cara ini juga efektif dalam mendorong bisnis termasuk UMKM mempengaruhi para pelanggannya untuk bertindak. 

Saya Tom Mc Ifle, Salam Pencerahan.