Toko kelontong adalah suatu bisnis keluarga yang paling sering kita jumpai. Usaha seperti ini sering dijalankan turun-temurun mulai dari generasi ke generasi. Biasanya, keuletan sang pemilik akan jadi kunci sukses dalam mendirikan bisnis keluarga. 

Namun di era persaingan yang semakin ketat, kita harus memiliki strategi pemasaran tambahan untuk memaksimalkan tiap usaha yang kita jalani. Strategi tersebut akan membantu dalam banyak hal seperti survive, ekspansi hingga memperoleh peningkatan omset. Nah salah satu cara untuk meningkatkan omset pada suatu usaha adalah menggunakan strategi cross selling.

Baca Juga : Memahami Apa Itu Manajemen Bisnis Keluarga?

Apa Itu Cross Selling?

Jual silang atau lebih dikenal dengan istilah cross selling, ialah satu dari banyak metode pemasaran yang digemari para bisnis owner. Pengaplikasian metode ini berupa penawaran produk/jasa tambahan pada pelanggan sebelum menuntaskan pembayaran. Dalam sebuah interaksi jual-beli, strategi pemasaran ini akan mengkatrol produk-produk dengan tingkat penjualan yang rendah milik Anda.

Misalnya, ketika Anda hendak melakukan pambelian rokok pada swalayan serba ada. Saat transaksi pembayaran berlangsung, pasti sang kasir akan berkata “koreknya sekalian kak?” atau “rotinya sekalian mumpung lagi diskon?” kan? Hal tersebut dilakukan bukan tanpa tujuan, melainkan merupakan strategi cross selling yang ditetapkan jadi SOP oleh para pemilik swalayan tersebut.

Menurut riset milik salesblink.io blog, penggunaan metode ini mampu menghasilkan peningkatan keuntungan rata-rata bisnis hingga 30%. Bahkan jika dikombinasi dengan up selling dan renewals, revenue sebuah perusahaan B2B mampu mencapai kenaikan 77%.  

5 Langkah Tepat Untuk Manfaatkan Cross selling Agar Omset Toko Kelontong Meningkat!

Melalui penjelasan sebelumnya, dapat diartikan bahwa sebuah toko kelontong bisa saja mengadopsi strategi cross selling ini untuk menaikkan omset. Di beberapa wilayah, toko kelontong berkapasitas besar mampu menggunakan model bisnis B2B dengan berperan sebagai supplier. 

Lalu bagaimana jika usaha yang sedang Anda geluti adalah toko kelontong kecil yang berfokus pada B2C? Tenang, ada 5 langkah cross selling yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan omset berkali lipat.

  • Jangan ragu menawarkan produk yang masih berhubungan dengan item pilihan pelanggan.

Sebagai pelanggan, kita pasti pernah melakukan pembelian hanya karena merasa lebih hemat saat kasir swalayan menawari produk lain. Bias pikir pelanggan seperti inilah yang akhirnya mendorong praktik-praktik metode cross selling. Sebagai penjual, Anda dapat melakukan metode ini di sela transaksi pembayaran pelanggan.

  • Gunakan bundling antar produk yang paling laku dengan produk yang tingkat pembeliannya rendah. 

Di toko kelontong, model bundle ini sering diterapkan dengan mengkombinasikan top brand dengan produk yang sulit terjual. Misal dengan menjual sabun cuci piring sepaket dengan spons cuci. Bisa juga dengan menjual cairan pembersih kamar mandi lengkap dengan sikat pembersihnya, dan masih banyak lagi. Pengaplikasian cara ini dibarengi dengan pemberian harga terjangkau untuk makin mendorong minat beli pelanggan. 

Baca Juga : Mengapa Konsultan Bisnis Penting untuk Pengembangan Bisnis?

  • Buat daftar pelanggan dengan memanfaatkan data transaksi toko. 

Daftar tesebut mampu dioptimalkan untuk mempelajari pola pelanggan dan produk apa yang mereka biasa beli. Dengan mengerti pola itu, metode cross selling yang akan toko Anda jalankan mampu merekomendasikan item yang tepat. Sehingga potensi keberhasilannya meningkat.

  • Tata display kasir secara rapi, lengkap dengan produk yang jarang dibeli.

Cara ini jarang sekali dilakukan oleh pengelola toko kelontong. Padahal, ketika produk-produk yang jarang laku terdisplay dengan rapi di depan mata pelanggan, kasir dari toko Anda akan lebih mudah memobilisasinya. 

  • Tawarkan produk dengan rekomendasi pribadi. 

Metode cross selling ini sedikit banyak melibatkan persuasi untuk menjawab kebingungan pelanggan saat terpapar penawaran. Jadi tidak ada salahnya, jika Anda memberikan alasan-alasan personal yang jujur hingga kebingungan pelanggan mampu terjawab.

Itu tadi 5 langkah yang akan membuat toko kelontong Anda mendapat peningkatan omset. Dengan menjalankan langkah tersebut, produk-produk yang jarang laku perlahan terkatrol naik.

Situasi ini menyebabkan omset keseluruhan toko Anda bertambah secara kolektif. Kendati begitu, cara meningkatkan omset lewat pengaplikasian metode cross selling sendiri tidak sama sepenuhnya dengan up selling.

Perbedaan Cross Selling Dengan Up Selling.

Walaupun dikatakan bahwa gabungan keduanya mampu meningkatkan rata-rata penjualan, dalam praktik nyata kedua cara ini saling tumpang tindih.  Cross selling akan membawa kesan hemat di benak pelanggan lewat penawaran produk tambahan. 

Sedangkan up selling, berupaya mempersuasi pelanggan untuk membeli produk yang valuenya telah ditingkatkan dari produk pilihan sebelumnya. Karena kemiripannya, kedua metode ini kerap dijalankan secara kontinu. Kondisi tersebut lah yang kadang menciptakan kesalahpahaman bagi para pebisnis. 

Baca Juga :  Cara Cerdas Mengelola Bisnis di Era Digital

Kesimpulan.

Dari artikel di atas, kita jadi memahami bahwa metode pemasaran cross selling memungkinkan peningkatan omset bagi berbagai usaha, termasuk usaha toko kelontong.

Menurut sebuah riset, gabungan antara metode cross selling, up selling dan renewals mampu meningkatkan revenue perusahaan B2B setinggi 77%. 

Kendati begitu, praktik dari metode cross selling tetap memiliki perbedaan dengan up selling. Namun, keduanya adalah metode yang ampuh untuk meningkatkan pendapatan toko kelontong Anda.

Saya Tom Mc Ifle, Salam Pencerahan.