Hampir setahun berlalu, dunia digoncangkan dengan covid-19. Efek dari virus tersebut dan dengan pemberitaan media menambah ketakutan dan keresahan masyarakat yang semakin tidak rasional. Situasi-situasi seperti inilah banyak menguntungkan media.

Akibatnya, banyak orang yang tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang untuk membeli masker. Dan tak sedikit yang tertipu dengan pabrik masker yang tidak jelas. Akhirnya menyebabkan kerugian dimana-mana.

Tak ada yang dapat disalah kan. karena bagi media tugasnya meliput berita yang memang lagi terkenal di kalangan masyarakat, juga dapat memberikan manfaat dan popularitas bagi mereka. Tanpa melihat baik atau buruknya berita tersebut.

Salah satu contoh media yaitu Kompas yang dulu oplahnya biasa-biasa saja. Namun pada saat krisis moneter , ada demo, penggulingan Presiden, media tersebut menjadi tempat atau wadah bagi masyarakat untuk mendapatkan isu terbaru yang sedang ramai di bahas pada saat itu.

Sama halnya dalam situasi saat ini, seperti yang kita ketahui bahwa Virus tersebut penyebarannya sangat cepat dan menimbulkan kepanikan luar biasa di masyarakat. Tentu virus ini tak bisa dianggap enteng. Namun tetap berpikir rasional untuk bertahan dalam situasi ini.

Apakah ada yang lebih menyita perhatian kita daripada Corona Virus? Tentu banyak. Salah satunya, ada data statistik yang mengatakan bahwa Corona Virus itu yang di blow up adalah kematian dan kematian. Dan yang tidak di blow up atau diberitakan ada berapa banyak yang sembuh.

Ada 91.000 kasus yang terkena corona virus, 3.120 meninggal . yang jarang diberitakan adalah 48.284 recover dari corona virus bisa dikatakan ada 39.943 case, 51.404 case itu close. banyak kasus yang terjadi atau yang terkena virus corona yang jarang diberitakan.

Tahukah Anda bahwa ada yang lebih berbahaya daripada corona virus? Dari data statistik mengatakan bahwa sekitar 841 juta orang yang kelaparan. Apakah dibahas dan di blow up? Apakah ada penggalangan?

Dalam dunia media, ini hak mereka selaku pembuat berita untuk memilih berita apa yang akan di tayangkan. Dan sekaligus hal yang sangat-sangat disayangkan khusus mereka yang berada di dunia media jurnalistik yang lebih suka memblow up sesuatu yang menakutkan dibandingkan menenangkan.

Lalu 751 juta kasus obesitas, 23.904 manusia yang mati karena kelaparan, 168.000 orang yang meninggal akibat malaria, 1,4 juta orang yang meninggal akibat kanker, 859.743 orang meninggal akibat rokok dalam setahun ini. Apakah dalam tahun ini di blow up atau diangkat? pabrik rokok, pabrik vape, pabrik tembakau semuanya apakah telah ditutup? Tidak, kenapa? Karena profit. Menurut pendapat beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa profit merupakan keseluruhan pendapatan penjualan suatu perusahaan dalam periode tertentu dengan sudah dikurangi dengan biaya-biaya. Ketika dalam berbisnis profit memang penting, namun berbisnis dengan hati agar dapat memberi manfaat, lebih penting daripada berbisnis menebar rasa takut, atau mengambil keuntungan dari orang yang sedang ketakutan. Berikut 5 alasan orang mengalami rasa takut di masa pandemi ini, yaitu:

1. Berpikir Worst Case Scenario

Menurut sebuah riset di Univesity of Minnesota mengungkap 3 skenario pandemi virus corona, salah satunya skenario terburuk. Riset ini mengingatkan bahwa pandemi belum akan berakhir 18-24 bulan ke depannya.

Diperkuat dengan munculnya peringatan organisasi kesehatan WHO bahwa jumlah kasus covid-19 akan meningkat. Dengan banyaknya berita di TV, media sosial tanpa disadari akan menimbulkan kepanikan dikalangan masyarakat.

Misalnya ada yang panik dan bertanya-tannya dalam hati dan pikirannya, bagaimana jika anak, atau keluarga terkena? Nah ini disebut teori konspirasi dimana kita mengalami yang namanya semacam penyangkalan bahwa virus itu ada namun kenyataannya memang ada.

2. Catastrophe

Catastrophizing adalah fenomena yang terjadi ketika seseorang memiliki pikiran irasional dan mempercayai bahwa sesuatu yang hendak terjadi adalah hal yang sangat buruk. Ini merupakan sebuah kondisi, dimana jika benar-benar terjadi membuat seseorang akan menjadi tidak berdaya.

Dan ini merupakan salah satu masalah mental juga yang bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Misalnya jika Anda memiliki anak, kemudian anaknya pulang terlambat dan Anda mulai berpikir negatif dan menerka-nerka apakah terjadi sesuatu yang buruk?

Misalnya seperti tabrakan, diculik dan lain-lain. Jadi, seolah-olah menciptakan sesuatu yang sifatnya catastrophy dipikiran dan membayangkan hal-hal buruk, dan menciptakan bencana dikepala. Dan ini sangat tidak sehat.

3. Intellectual resistance

Menurut Wikipedia resistance adalah menunjukan pada posisi sebuah sikap untuk berperilaku bertahan, berusaha melawan, menentang. Dengan kata lain bahwa sebenarnya Anda cerdas, mengerti dan tahu namun menolak. Misalnya intelektual Anda tahu dan menginformasikan bahwa mati akibat flu lebih banyak dari pada covid-19.

Bukan berarti virus tersebut tidak berbahaya, namun influenza juga belum ditemukan obatnya. Dan yang terjadi saat ini, Virus Corona yang kematiannya relatif sama dengan kematian influenza itu diblow up luar biasa, mengapa demikian? Lagi-lagi karena profit, ada yang dapat keuntungan dari profit itu.

4. Automatic Thought Atau Respon Amikdala

Amigdala terletak jauh di dalam lobus temporal kiri dan kanan otak yang membantu mengkoordinasikan tanggapan terhadap hal-hal di lingkungan yang memicu respon emosional. Seperti respon melawan atau lari otak.

Nah ketika menemukan bahaya akan memberi respon dingin atau berhenti bahkan tidak bisa berpikir. Dalam situasi ini yang diandalkan adalah pikiran otomatis yang membuat Anda langsung ingin bergerak, bertindak atau bahkan mengurung diri dan akhirnya membuat Anda ketakutan.

5. Demonize

Demonize atau demonik bisa disebut juga demonik visualization, seperti memikir, mem-visualisasikan hal buruk. Misalnya sering memikirkan atau membayangkan orang tua atau orang terdekat mengalami hal buruk seperti tabrakan. Atau ada bencana-bencana yang terjadi secara nyata dan seolah-olah melihat intuisi bahwa anak atau keluarga terdekat akan seperti itu.

Jadi, dalam situasi sekarang ini, harus selalu berpikir secara lebih masuk akal, menjaga kesehatan. Tetapi tahukah Anda bahwa ketakutan itu lebih berbahaya dari pada Virus Corona? Ada cerita yang cukup menarik, pada suatu hari seorang malaikat berpapasan dengan iblis yang ingin melewati sebuah kota, lalu malaikat membuka percakapan:

Malaikat: “Hei iblis, mau kemana kau? “

iblis : “saya lagi bertugas “

Malaikat: “Tugasnya apa?”

Iblis : “membawa wabahlah malaikat”

Malaikat: “kemana?”

Iblis : “Dikota seberang namanya China”

Malaikat: “ kenapa harus kesana?”

Iblis : “Tidak apa-apa, sudah waktunya untuk mereka meninggalkan dunia ini”

Malaikat : “kamu bakal ambil berapa nyawa?”

Iblis :”seribu, yah maksimallah seribu”

Lalu si iblis pergi dan terjadilah wabah dikota tersebut. Kemudian yang meninggal sekitar 100.000. Dan sudah waktunya bagi iblis untukpulang. Secara kebetulan pula Iblis tersebut ketemu malaikat dalam perjalanannya.

Malaikat : “Hei iblis kamu dapat berapa nyawa?

Iblis : “Seribu”

Malaikat :”Lalu mengapa ada 100.000 orang yang meninggal dunia?

Iblis : “ Begini bos ceritanya, yang benar-benar meninggal karena wabah itu cuma seribu dan sisanya itu meninggal karena ketakutan”. Demikian percakapan antara si malaikat dan si iblis.

Nah dari percakapan tersebut dapat di simpulkan bahwa ketakutan bisa membuat sistem imun tubuh drop. Ketika hal tersebut terjadi maka penyakit apapun bisa menyerang tubuh kita. Misalnya flu saja bisa merenggut nyawa.

Jangankan virus corona, sakit perut saja bisa membuat kita meninggal. Maka dari itu, jika ingin sehat maka fokus pada hal positif. berhentilah menonton dan membaca berita negatif. Jangan melibatkan energi Anda meracuni pikiran dengan hal-hal negatif. Semoga bermanfaat.

Tom MC Ifle,

Salam pencerahan.

Share This, Choose Your Platform!